“Tanggung Jawab kami sebagai pelayan masyarakat, ya memberikan yang terbaik kepada mereka. Bukankah aparat itu pelayan, dan masyarakat Tuannya?”

Muh Jabir – Kadus Wonosaran

Siang itu (Selasa, 7 Juli 2020) perempuan berusia senja, yang tinggal tak jauh dari kawasan Candi Borobudur, berbinar matanya. Mulutnya kaku tak mampu mengeluarkan sepatah kata menahan haru, tangannya gemetar, kaki melemas, dan sesekali nafasnya tertarik dalam. Tiga orang berseragam beda-beda mendatangi rumahnya. Satu orang berseragam khaki, satu lagi berseragam doreng dan satunya berseragam coklat. Masing-masing membawa catatan kertas sendiri-sendiri. Sedangkan bapak-bapak yang berseragam khaki tak sekedar membawa kertas catatan, tapi membawa kertas warna merah, masing-masing bertuliskan Rp. 100.000 sebanyak enam lembar.

Adalah Nenek Watini (84 tahun), perempuan yang mengalami sakit dan tidak mampu berjalan, diantarkan bantuannya oleh Pak Kadus bersama Babinkabtimas dan Babinsa desa Kedungsari Bandongan Magelang. Perempuan ini satu dari sekian ratus warga desa yang mendapatkan BLT Dana Desa. Dan beliau satu diantara warga desa yang tidak mampu hadir sendiri ke Balai Desa untuk menerima bantuan. Sehingga, atas inisiatif pemdes, BLT tersebut disalurkan langsung ke rumah penerima.

Uang Rp. 600.000 bagi orang yang mampu bekerja, mungkin tidak seberapa. Namun beda bagi Nenek Watini, uang tersebut seperti rejeki tak terduga yang ujug-ujug mak bedunduk. Tanpa disangka dan tanpa diduga. Tentu saja kabar bahwa beliau menerima bantuan, tidak bisa beliau akses. Apalagi soal istilah BLT Dana Desa. Dia tidak bisa akses informasi seperti kalangan orang jaman sekarang.

Watini sudah beberapa bulan tidak mampu bekerja menghidupi dirinya sendiri karena sakit. Selama ini beliau tinggal sendiri di rumahnya. Sedangkan yang merawat adalah anaknya, namun tidak tinggal serumah bahkan jauh jaraknya.

Inilah mungkin berkah adanya BLT Dana Desa. Saat seseorang membutuhkan, maka sesuatu itu tiba-tiba ada dan memberi kebahagiaan. Ucap syukur dan terima kasih terucap lirih dari bibir Nenek Watini. Karena beliau merasa sudah membuat repot banyak orang, termasuk Pak Lurah (Kades). “Tanggung Jawab kami sebagai pelayan masyarakat, ya memberikan yang terbaik kepada mereka. Bukankah aparat itu pelayan, dan masyarakat Tuannya?” Ucap Muh Jabir kadus Wonosaran.

PDP Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang, M. Arif Sholihin menyatakan bahwa respon Pemdes Kedungsari dengan program BLT Dana Desa ini memang bagus. Begitu mendengar pidato Presiden, Pemerintah Desa Kedungsari langsung menyelenggrakan Musyawarah Desa (MUSDES) untuk mengimplementasikan kegiatan ini.

“Beberapa item kegiatan di desa kami geser untuk memenuhi BLT Dana Desa ini, bahkan jika juknis Bupati terkait BLT Dana Desa yang per bulan tiga ratus ribu, kami siap menggeser lagi kegiatan-kegiatan yang sudah kami rancang tahun kemarin.” pungkas Suharsono Kades Kedungsari.

(seperti dikisahkan oleh Bang Gorep kepada Admin)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *